Saturday, 20 June 2020

Ulama Dayah, Benteng Masyarakat Aceh dari Penjajah Belanda



*Oleh: Teuku Zulkhairi, Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry, Banda Aceh.

Melalui tulisan ringan ini saya hanya ingin sedikit membahas bahwa keislaman yang dipahami dan diajarkan para ulama dayah di Aceh saat ini adalah sejalan dengan paradigma keislaman ulama di masa lalu. Selain itu juga sejalan paradigma Keislaman umat Islam di negeri jiran saat ini, baik Brunei Darussalam, Malaysia, dan Thailand Selatan.

Setidaknya tiga negara itu saja saya sebutkan karena kebetulan saya pernah berdiskusi panjang dengan sejumlah akademisi atau ulama dari negara-negara tersebut. Namun saya yakin, alam Melayu sama semuanya paradigma keislaman mereka.

Beberapa hari lalu, Ketua HUDA (Himpunan Ulama Dayah Aceh), Tgk H Muhammad Yusuf A Wahab yang akrab disapa Ayah Sop Jeunieb mengunjungi Brunei Darussalam dan berfoto bersama dengan menteri agama kerajaan tersebut. Menurut informasi yang saya baca, banyak kerja sama yang dilakukan karena banyaknya kesamaan antara ulama Aceh, dalam hal ini Ayah Sop dengan ulama-ulama Brunei.

Di masa lalu, banyak ulama dayah yang terlibat perang melawan penjajah Belanda. Dayah-dayah banyak yang dibakar Belanda. Bukan itu saja, kitab-kitab ulama Aceh zaman dulu juga banyak yang dicuri Belanda dibawa pulang ke negeri mereka agar generasi muda Aceh terputus dengan sejarah masa lalunya. Agar generasi muda Aceh tidak paham bagaimana Islam yang berkembang di Aceh di bawah perjuangan para ulama.

Intinya, paradigma keislaman yang lurus para ulama dayah adalah tantangan besar bagi Belanda dalam upayanya melakukan sekulerisasi, sebagai bagian dari agenda imperialisme. Karena itu, ulama (dan) dayah adalah musuh mereka. Sebab, para ulama tidak pernah mau tunduk kepada penjajahan kafirun. Jadi, Belanda memusuhi ulama (dan juga) dayah adalah karena penolakan mereka terhadap setiap misi kaum imperialis.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana kongkritnya paradigma keislaman ulama-ulama Aceh dahulu sehingga kita dapat melihat kondisi saat? Jawabannya adalah dapat dilihat dalam literatur kitab-kitan turast yang mereka pelajari, mereka tulis dan ajarkan kepada masyarakat.

Ya, kita dapat melihatnya pada kitab-kitab turast yang mereka tinggalkan, yakni dalam kitab-kitab Arab-Melayu atau di Aceh disebut sebagai kitab Jawoe. Kenapa kitab Arab-Melayu? Karena kitab-kitab ini telah melewati serangkaian seleksi ketat yang mereka lakukan.

Pertama yaitu seleksi dalam proses penerjemahan. Kitab-kitab Arab-Melayu atau jawoe yang diterjemahkan dari kitab berbahasa Arab oleh para ulama menunjukkan bahwa seperti itulah paradigma Islam yang diajarkan oleh para ulama Aceh dahulu sejak awal Islam masuk ke Aceh.

Jadi, kitab-kitab Arab-Melayu adalah cerminan bagaimana keIslaman masyarakat Aceh tempo dulu, baik di Banda Aceh sebagai ibu kota provinsi maupun wilayah lainnya di Aceh. Kedua, kitab-kitab Arab-Melayu yang ditulis para ulama Aceh dahulu yang kemudian berkembang pesat dan menjdi referensi dunia Melayu dengan sangat jelas menunjukkan bagaimana keIslaman masyarakat Aceh yang dipahami dan berkembang saat itu.

Dari kitab-kitab Arab-Melayu itulah kita dapat memahami aqidah masyarakat Aceh di masa jayanya, praktek ibadah atau sayaariah maupun tasawuf yang diizinkan berkembang. Baik yang dikarang oleh ulama-ulama Aceh seperti Syekh Nuruddin Ar-Raniry, Syekh Abdurrauf As-Singkili maupun yang dikarang oleh ulama-ulama dari dunia Melayu lainnya seperti Syekh Abdul Samad Al Falimbani.

Maka dari situlah kita dapat memahami keIslaman para endatu kita masa lalu. Maka itu kadangkala saya sangat bingung mengapa misalnya kitab-kitab Syekh Nuruddin Ar-Raniry dan Syekh Sayaaikh Abdurrauf As-Singkili (Syekh Kuala) tidak begitu mendapatkan perhatikan orang Aceh untuk dikaji.

Malahan apresiasi atas kitab-kitab karangan kedua ulama besar tersebut justru datang dari ulama-ulama dan intelektual dari negeri Jiran. Merekalah yang mengkaji secara sangat serius karena mereka memahami akar Islam Melayu sangat dipengaruhi oleh ulama-ulama Aceh.

Jadi, timbul pertanyaan, apakah paradigma Keislaman ulama dayah di Aceh saat ini sama dengan ulama-ulama Aceh di masa dahulu seperti kedua nama ulama besar yang saya sebutkan di atas yang nama keduanya diabadikan menjadi nama kedua kampus jantong hate rakyat Aceh?

Jawabannya ya sama sekali tidak beda. Baik bidang aqidah, ibadah/sayaariah maupun akhlak tasauf. Selanjutnya kembali ke masing-masing pembaca untuk mengkaji literatur-literatur terkait.


Oleh sebab itu, saya menyimpulkan sebagaimana di masa dahulu para ulama di Aceh senantiasa menjaga Aceh dari segala sesuatu makar yang datang dari luar, maka peran itu masih terus dan akan terus dilakukan sampai kapanpun. Maka jangan heran jika para ulama dayah menolak segala sesuatu yang jika melawan dengan apa yang dahulu sudah berlaku di Aceh dan mengantarkan Aceh pada era kegemilangannya. Karena itu, bukankah tidak berlebihan kalau kita mengatakan bahwa "ulama dayah adalah pengawal agama masyarakat Aceh".

Friday, 19 June 2020

Dari Kaphé Ke Modernitas


*Oleh : Bung Alkaf

Pada 9 Juni 1873, Kolonel E.C. Van Daelen tersenyum puas, sebab sebagai Panglima Tertinggi Belanda dalam Perang melawan Aceh, dia merasa telah memenangkan peperangan karena berhasil menguasai  Dalam (Istana Sultan Aceh). Perang itu dicatat dalam sejarah kolonialisme bangsa-bangsa Eropa sebagai peristiwa yang paling mengguncang karena kegagalan agresi Belanda yang pertama, dimana Belanda harus  mundur ke Batavia dengan membopong Jenderalnya yang ditembak mati di bawah pohon besar di halaman mesjid Baiturahman. Jendral Kohler namanya, satu dari empat Jendral Belanda yang  mati sepanjang perang melawan orang Acheen.

Namun Van Daelen kemudian benar-benar salah, karena setelah menguasai Dalam dan beberapa wilayah di Aceh Besar, dia dan negaranya baru akan memasuki perang yang sesungguhnya. Perang terlama yang pernah dirasakan oleh Belanda itu disebut oleh Paul Van’t Veer (1985) berlangsung dalam empat bagian dari 1873-1942.

Dimana letak kekuatan orang Aceh sehingga sanggup berperang dengan begitu lama? Bagi  orang Aceh, maka akan menjawab kekuatan itu datang dari agama, hal tersebut disimbolkan  dalam sebuah Hikyat Perang Sabil. Namun bagi seorang Belanda, H.C. Zentraaff (1983), orang Aceh itu seperti dilahirkan  untuk berperang! Tipikal itu baginya ada dalam diri Tgk. Chik di Tiro yang digambarkan sebagai orang yang bersemangat dalam mengkampanyekan perang melawan apa yang dianggap oleh keyakinannya sebagai perang suci. Heroisme itulah yang kemudian menarik garis demarkasi antara Aceh dan Belanda yang tetap Kaphe sampai kapanpun.

Beberapa puluh tahun setelah pendudukan Dalam, orang Aceh tetap melihat Belanda sebagai Kaphe. Cara pandang itulah yang mendorong Teuku Ubiet mengasah parangnya untuk menghabisi Kontroleur Belanda pagi-pagi buta di Seulimuem sebagai salam terakhir untuk negara kolonial berkulit putih itu sekaligus menyambut kedatangan saudara Asia, Jepang. 

Belanda itu Kaphe, karena itu orang Aceh tidak pernah bisa menjadi Belanda, sehingga kita tidak pernah mendengar ada perempuan Aceh yang menjadi Nyai-Nyai (perempuan pribumi yang menjadi gundik perwira Belanda). Bahkan tidak hanya itu, kristenisasi di Aceh selama masa kolonial juga tidak pernah berhasil. Menjadi kristen sama saja dengan tidak lagi menjadi Aceh, makanya ketika ada isu kritenisasi paska Tsunami, orang Aceh tidak pernah gusar, karena bedil Belanda dulu pun tidak bisa mengkristen-kan orang Aceh, apalagi hanya dengan bantuan. Sebab bagi Aceh, pemaknaan masyarakat dari Linton tidaklah berlaku. Linton mengatakan bahwa masyarakat sebagai bagian dari setiap kelompok sosial yang telah lama hidup bersama akan bisa mengasosiasikan dirinya sebagai suatu kesatuan sosial dengan batas-batas tertentu yang tidak berlaku. Namun bagi orang Aceh, selama apapun masa pendudukan, tetap saja tidak akan pernah membuat mereka menjadi Belanda.


Perang panjang melawan Belanda memang membuat Aceh terputus dari masa lalunya. Perang kolonial membuat Aceh tidak lagi bisa mElihat kembali ke sejarahnya yang besar, seperti dikatakan oleh sejarawan Perancis Denis Lombard, Aceh yang tertata dengan rapi dan memilki kekuatan militer yang hebat. Sehingga kemudian Aceh harus mendialogkan identitasnya dengan nama yang baru: Indonesia. Dengan Indonesia, Aceh melakukan asosiatif dan disosiatif. Aceh menerima gagasan keindonesiaan karena melihat ada masa depan di dalam negara  baru itu. Harapan bagi Aceh yang sangat fanatik terhadap agamanya adalah akan tegaknya Islam, karena untuk itulah orang Aceh berperang.

Namun, Aceh juga melakukan proses sosial yang disosiatif, seperti pemberontakan yang juga dilakukan oleh Republiken sejati. Disini walau masih memiliki harapan pada Indonesia, namun Aceh terus menjauh dari Indonesia, karena sebelum turun gunung, generasi Republiken itu sudah meletakkan gagasan Aceh Baru tanpa Indonesia yang bernama RIA (Republik Islam Aceh). 

Gagasan nasionalis tanpa Indonesia itu dipertegas lagi oleh generasi Republiken yang lebih muda, yang pernah belajar dii sekolah ideologi Normal Islam Institute, yang kemudian hijrah ke Amerika,Hasan Tiro, melalu Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Pemberontakan GAM ini juga dibangun dengan  landasan ideologi nasionalis keacehan. Namun tidak seperti generasi sebelumnya, gagasan Hasan Tiro tidaklah membawa Islam dalam bingkai apapun, termasuk dalam bingkai Daud Beureueh. Gagasan Hasan Tiro dibangunnya dari sejarah Aceh yang dibacanya di perpustakaan New York dengan cara pandang Renaisanse. Jadi gagasan itu bukan lah revivalis, namun benar-benar baru.

Perang itu memang membuat Aceh kini terputus dengan masa lalunya. Namun perang itu jugalah yang membawa Aceh masuk ke alam modern dan kebaharuan. Hal ini bisa dilihat ketika orang Aceh memperbaharui cara melihat orang asing. Dulu dianggap kaphe karena membawa huru hara, namun kini menjadi saudara karena membawa kedamaian.

Kebaharuan tersebut  haruslah dihadapi dengan optimisme, sebab Aceh kini sudah berada dalam episentrum modernitas. Tantangan modernitas yang dihadapi ke depan haruslah membuat Aceh tidak boleh meninggalkan sumber utamanya, yaitu Islam, yang telah membuat generasi sebelumnya mampu melawan tanpa henti. Dialog antara Islam dan modernitas akan membawa Aceh tidak saja tersambung kembali masa lalunya, namun juga membangun masa depannya yang baru.(*)


Thursday, 18 June 2020

Aceh “Pungoe”


Bagi pihak Belanda, fenomena ini menjadi suatu hal yang tidak biasa. Mereka menyebutnya Atjeh Moorden atau 'pembunuhan Aceh'. Selanjutnya lebih dikenal sebagai Aceh Pungoe (Bahasa Aceh), atau Aceh Gila. Penyematan kata 'gila' merujuk pada anggapan awal pihak Belanda mengenai sikap orang Aceh yang bisa tiba-tiba menghunus rencongnya dan menyasar orang Belanda. Oleh orang Belanda, ini dianggap sebagai gejala psikologis.

Perbuatan nekat itu dianggap tidak mungkin dilakukan oleh orang waras. Maka timbullah istilah di kalangan orang Belanda Gekke Atjehsche (orang Aceh gila), yang kemudian populer dengan sebutan Aceh Pungo.

Puas usai memantau anak buahnya, Schmid (Komandan Divisi 5 Korp Marsose Lhoksukon) beranjak pulang. Baru beberapa langkah ia meninggalkan lapangan, tiba-tiba seorang Aceh lewat di hadapannya. Orang itu berhenti lalu memberi 'tabik' atau salam penghormatan. Schmid mengangkat tangannya untuk membalas salam penghormatan orang itu sembari tersenyum. Baru saja ia melihat sang pemberi tabik menurunkan tangannya, ketika ia sadar, ujung rencong orang itu sudah menembus perutnya.

Shcmid lengah! Ia tak melihat orang tadi menarik rencong yang diselipkan di pinggangnya. Schmid terhuyung dan sekarat. Seragamnya basah oleh darah. Kendati diboyong ke rumah sakit, tetapi nyawanya tak tertolong. Schmid tewas.

Cerita di atas menggambarkan bagaimana Komandan Divisi 5 Korp Marsose Lhoksukon, Kapten Charles Emile Schmid tewas pada suatu Senin yang cerah, tepatnya tanggal 10 Juli 1933 di Aceh. Tragis memang. Sang kapten tak mati di medan perang atau di rimba pertempuran. Ia mati ditusuk di depan pasukannya sendiri. Ditikam!

Lokasi di mana Schmid ditusuk seharusnya menjadi tempat paling aman dari serangan musuh. Terlebih, tempat itu dekat dengan tangsi-tangsi militer milik Belanda. Lantas, kenapa si pelaku penusukan berani melakukannya? Inilah yang disebut “Aceh pungoe” !!! (*)



Belajar Dari Andalusia



Dalam beberapa hari yang lalu, jagat maya sempat dihebohkan dengan pemberitaan mengenai salah satu warga Aceh yang ‘berganti’ keyakinan. Dan ini bukan kasus pertama, jauh sebelumnya juga ada beberapa warga Aceh yang bernasib demikian. Walaupun beberapa di antaranya berhasil disyahadat ulang. Berdasarkan keterangan, sebagian besar mengaku terpengaruh karena faktor kesempitan ekonomi dan biaya kebutuhan hidup. Lantas benarkah demikian ? Perspektif undang-undang memang menjamin kebebasan beragama, dan itu mutlak ranah privat. Namun sebuah ironi ketika faktor kemiskinan justru terkadang dimanfaatkan oleh oknum-oknum tertentu untuk menjalankan misi pemurtadan dalam masyarakat, dan sebuah pilu apabila itu terjadi di tanah Aceh, tanah di mana pelaksanaan syariat Islam dijalankan dengan perjuangan yang sangat mahal.

Sebelum mengulas lebih jauh, kita harus sadar bahwasanya konsekuensi murtad dalan Islam sangatlah besar. Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak halal darah seorang muslim yang bersaksi laa ilaaha illallah dan bahwa aku utusan Allah, kecuali karena tiga hal: nyawa dibalas nyawa, orang yang berzina setelah menikah, dan orang yang meninggalkan agamanya, memisahkan diri dari jamaah kaum muslimin.” (HR. Bukhari 6878, Muslim 1676, Nasai 4016, dan yang lainnya).

Dalam Islam, ‘Uqubah bagi pelaku Riddah adalah hukuman mati, kecuali bertaubat dengan sebenarnya taubat dan kembali ke pangkuan Islam.

Problem ekonomi dan kebutuhan hidup sejatinya bukanlah alasan mutlak seseorang berpindah keyakinan, karena sepahit apapun hidup Islam selalu memberikan solusi. Kendala utamanya adalah bicara keimanan dan sejauh mana ia menguasai kedalaman wawasan agama. Jauh sebelum kejayaan Islam, para sahabat lebih dahulu menghadapi berbagai macam kenyataan ketika mereka harus diultimatum antara hidup dan mati, memilih Islam atau berada di luar Islam. Dan demi mempertahankan keimanan yang benar, mereka rela mati dan disiksa dengan siksaan yang pedih demi mempertahankan keimanan yang benar.

Kondisi ekonomi dengan resiko nyawa tentunya berbeda, dimana nyawa adalah pilihan terakhir antara hidup dan mati. Dan dari perihal tersebut, para sahabat teguh pada keimanan dan mereka kukuh pada keislaman.

Islam tidak hanya berbicara tentang agama dan ketuhanan saja, tetapi lebih dari itu semua. Aspek sosial, politik dan ekonomi adalah salah satu acuan utama yang sangat diperhatikan, dan Rasulullah Saw sebagai praktisi pertama telah mengajarkan itu semua kepada kaum muslimin.

Bicara kesempitan ekonomi dan kemiskinan, Rasulullah Saw dan beberapa para sahabat dahulu juga hidup dalam kehidupan yang berkecukupan/kesederhanaan. Dari sikap ini mestinya kita belajar, seburuk apapun kondisi ekonomi bukanlah alasan kita untuk “menjual agama”.

Peradaban Islam Di Andalusia

Andalusia (Spanyol) adalah titik awal penyebaran Islam di Eropa. Dan kekuasaan Islam di sana pernah mencapai puncak keemasan di bidang ilmu pengetahuan dan budaya. Peradaban Andalusia yang kosmopolitan, menghargai perbedaan, dan mendorong ilmu pengetahuan yang berkemajuan, hingga Andalusia menjadi menara ilmu dan agama di jantung eropa. Andalusia mencapai puncak keemasan pada abad ke-10 dan 11, berkuasa selama lebih kurang 800 tahun.

Pada periode 912-1013 M, Abdurrahman An-Nashir salah seorang penguasa Andalusia mendirikan Universitas Cordova sehingga Andalusia mengalami kejayaan. Perpustakaannya memiliki koleksi ratusan ribu buku, masyarakat pada masa ini dapat menikmati kesejahteraan dan kemakmuran yang tinggi.

Dan yang seperti kita ketahui, di zaman keemasan Andalusia juga terlahir beberapa ilmuan, salah satunya ilmuan besar ekonomi yaitu Ibnu Khaldun yang dikenal sebagai bapak ekonomi Islam. Selain itu juga ahli-ahli di bidang lain, seperti Ibnu Rusyd. Ia memiliki gelar “sang komentator besar” karena kontribusinya terhadap pemikiran dan peradaban di timur dan barat, adalah sosok penerjemah terbaik pemikiran Aristoteles. Selain itu, Ibnu Rusyd juga dikenal sebagai “bapak akal sehat” yang menguasai banyak bidang ilmu, seperti al-Qur'an, fisika, matematika, kedokteran, filsafat, biologi, dan astronomi.

Dari beragam momen-momen indah di tanah Andalusia, namun harus memiliki akhir kisah yang pilu. Persatuan Islam yang mulai lemah hingga konflik internal karena kekuasaan di kalangan bangsawan menjadi titik kelemahan. Sehingga hal ini dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam untuk mengoboknya dari dalam dan luar.

Konflik internal ini berujung perebutan kekuasaan terjadi di antara para pemimpin muslim. Umat Islam menjadi semakin lemah. Sampai pada akhirnya, Raja Ferdinand dan Ratu Isabella berhasil menaklukkan kekuasaan Islam, setelah Granada benteng terakhir kaum muslimin di Andalusia jatuh ke tangan bangsa eropa.

Seiring jatuhnya pemerintahan Islam, peninggalan Islam dibakar. Ribuan koleksi perpustakaan dihanyutkan ke sungai. Masjid-masjid dialihfungsikan menjadi gereja. Pemurtadan terjadi di mana-mana. Eksekusi massal, pengusiran, serta berbagai tindak kesewenang-wenangan harus pula dialami umat Islam. Padahal, ketika pemerintahan Islam berkuasa, warga non-muslim yang tunduk pada pemerintah, diperlakukan secara baik. Mereka juga diberi kebebasan memilih agama. Meskipun demikian, bukti kemajuan peradaban Islam di Andalusia masih terlihat dengan jelas.

Dengan berakhirnya pemerintahan Islam ini, berarti saat itu lenyaplah peradaban besar yang pernah dikembangkan oleh Islam di eropa selama abad pertengahan. Kaum muslimin dilarang menganut Islam, dan dipaksa untuk murtad. Maka untuk membedakan mana orang yang sudah murtad dan mana yang belum adalah dengan cara melihat seorang Muslim menggunakan baju seragam dan topi berbentuk kerucut dengan nama sanbenito.

Itulah Andalusia, sepotong surga yang hilang. Walaupun pada akhirnya terusir secara kejam, akan tetapi Islam telah berjasa terhadap Spanyol dan Eropa. Andalusia (Spanyol) harus menjadi contoh kita hari ini, betapa kejayaan Islam di sana yang pada akhirnya harus hilang. Satu sisi, mungkin kita juga belajar dari sejarah endatu Aceh dulu ketika upaya kristenisasi kolonial Belanda yang tidak pernah berhasil.

“Tegakkan Islam dalam dirimu, niscaya Islam akan tertegak di atas bumimu.” ujar Hasan al-Banna.(*)

Wassalam

Pemuda yang Diharapkan Zaman




Berpijak dari kondisi dunia hari ini, kita mampu menerka bahwa bumi sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Selain pandemi corona, beragam persoalan masih menjadi perhatian kita semua. Orang-orang didera kelaparan dan terusik karena kehilangan pekerjaan, pedagang yang kehilangan pelanggannya, kebijakan pemerintah yang ambigu dalam menyikapi pemutusan mata rantai Covid-19, hingga kehadiran bencana alam yang melanda beberapa daerah.

Melihat situasi dan kondisi ini, peran reaktif pemuda selaku tonggak kebangkitan umat diharapkan mampu menjadi “peunawà” (obat) bagi masyarakat, menumbuhkan sikap berbagi, hingga menghadirkan energi yang positif haruslah menjadi entitas bagi jiwa seorang pemuda. Terlebih pemuda adalah cerminan yang akan menjadi bagian penerus estafet sebuah bangsa. Sebagaimana orang-orang di kampung saya menyatakan bahwa “the young today is the leader tomorrow” (pemuda hari ini adalah pemimpin yang akan datang).

Pemuda yang diharapkan oleh zaman adalah pemuda yang mampu menghadirkan manfaat bagi umat, tidak terbatasi dengan besar kecilnya dampak yang diberikan. Tetapi adanya nilai-nilai kebaikan yang terasa adalah bukti identitas seorang pemuda hebat. Di samping juga Tuhan senantiasa melihat dan tidak lupa mencatat setiap benih-benih kebajikan yang hamba-Nya perbuat.

Menginstal peradaban menuju arah yang lebih berkemajuan adalah tanggung jawab pemuda. Titik nadir inilah menjadi tolak ukur bagaimana pemuda mempersiapkan masa depannya. Terlebih hal yang perlu kita pahami bahwa dunia saat ini sudah ‘move on’ dari zaman kuno, dan memasuki era milenial. Di mana era ini disebut sebagai masa teknologi berkembang dengan pesat dan menjadi sebuah gaya hidup bagi para generasi di dalamnya. Di era ini dengan segala kecanggihan teknologi, tingkat persaingan juga semakin tinggi sehingga menuntut kualitas dan kinerja manusianya untuk lebih ditingkatkan.

Era liar globalisasi yang ganas harus menjadi sebuah kepekaan dan kemampuan pemuda untuk meningkatkan daya saingnya, supaya tidak hanya menjadi budak dan korban dari teknologi. Pemuda yang menghabiskan waktunya berjam-jam di warung kopi hanya untuk bermain game, hingga lupa diri adalah bentuk fenomena generasi yang gagal. Hilangnya waktu secara sia-sia menjadi salah satu pemicu lahirnya generasi-generasi pemalas, lemah nalar, hingga mental apatis.

Mungkin sejarah perlu diulang, ketika panji-panji muda pernah berjaya dalam tinta sejarah Islam. Perjuangan yang pernah dikobarkan telah mengabadikan nama mereka dalam catatan emas buku sejarah. Mereka layak menjadi uswah (teladan) bagi pemuda generasi sekarang. Panutan yang nyata bagi pemuda masa kini yang sedang kehilangan tokoh inspiratif. Nama-nama itu di antaranya Usamah bin Zaid, dalam usianya yang masih 18 tahun beliau pernah memimpin pasukan yang anggotanya adalah para pembesar sahabat seperti Abu Bakar dan Umar untuk menghadapi pasukan terbesar dan terkuat di masa itu. Usamah merupakan panglima Islam termuda sekaligus panglima terakhir yang pernah ditunjuk langsung oleh Rasulullah saw.

Selanjutnya Sa’d bin Abi Waqqash (17 tahun) merupakan orang yang pertama kali melepaskan anak panah di jalan Allah. Rasul saw bersabda tentangnya: “Ini adalah pamanku, mana paman kalian”.

Ada juga nama al-Arqam bin Abil Arqam (16 tahun) yang menjadikan rumahnya sebagai markas dakwah Rasul saw selama 13 tahun berturut-turut. Selanjutnya Zubair bin Awwam (15 tahun) yang pertama kali menghunuskan pedang di jalan Allah. Diakui oleh Rasul saw sebagai hawari-nya. Berikutnya Zaid bin Tsabit (13 tahun), adalah seorang penulis wahyu. Dalam 17 malam mampu menguasai bahasa Suryani sehingga menjadi penerjemah Rasul saw. Hafal kitabullah dan ikut serta dalam kodifikasi Alquran.

Ada juga nama ‘Atab bin Usaid, diangkat oleh Rasul saw sebagai gubernur Mekkah pada umur 18 tahun. Mu’adz bin Amr bin Jamuh (13 tahun) dan Mu’awwidz bin ‘Afra (14 tahun) yang membunuh Abu Jahal, jenderal kaum musyrikin, pada perang Badar. Berikutnya Thalhah bin Ubaidullah (16 tahun), orang Arab yang paling mulia. Berbaiat untuk mati kepada Rasul saw pada perang Uhud dan menjadikan dirinya sebagai tameng.

Sementara itu Muhammad al-Fatih (22 tahun) yang namanya begitu akrab di telinga kita, merupakan penakluk Konstantinopel ibu kota Byzantium pada saat para jenderal agung merasa putus asa. Terakhir Abdurrahman an-Nashir (21 tahun), pada masanya Andalusia mencapai puncak keemasannya. Dia mampu menganulir berbagai pertikaian dan membuat kebangkitan sains yang tiada duanya.

Pemuda adalah pewaris peradaban. Di tangan pemuda, masa depan suatu peradaban diletakkan. Kelompok usia yang memiliki berbagai kelebihan: semangat, energi, waktu, kemampuan mobilitas, dan gagasan-gagasan kreatif. Peran pemuda dalam sejarah peradaban Islam tak hanya berkutat pada agama dan militer, tetapi juga diplomasi dan ilmu pengetahuan.

Sebagaimana pernah dikatakan oleh Tan Malaka (filsuf Indonesia), “Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda”. Ini menandakan bahwa pemuda merupakan aset berharga yang akan mengubah wajah masa depan, sekaligus tolok ukur arah peradaban yang berkemajuan.(*)


Pidie Sepanjang Abad


Berbicara tentang “Negeri” Pidie memang terlalu luas sisi dan hal menarik yang akan kita temui, semenjak dari Kerajaan Pedir berkuasa hingga dengan abad modern kini. Perjalanan sejarah yang sangat panjang, kebudayaan yang mengakar, karakteristik hingga tokoh-tokoh besar yang pernah dilahirkan, membuat Pidie memiliki khas dan kharisma tersendiri.

Sejarah Pidie

Pidie sebelumnya adalah Kerajaan Pedir yang tangguh dan perkasa, berdiri pada abad ke-15, kerajaan otonom di bawah kesultanan Aceh Darussalam. Sebelumnya, Kerajaan ini dinamai Kerajaan Sama Indra, waktu itu mereka masih menganut paham agama Budha Mahayana atau Himayana. Oleh M. Junus Djamil diyakini dari agama ini kemudian masuk pengaruh Hindu. Pada pertengahan abad ke-14 masehi penduduk di Kerajaan Sama Indra beralih dari agama lama menjadi pemeluk agama Islam, setelah kerajaan itu diserang oleh Kerajaan Aceh Darussalam yang dipimpin Sultan Mansyur Syah (1354 – 1408 M). 

Selanjutnya, pengaruh Islam yang dibawa oleh orang-orang dari Kerajaan Aceh Darussalam terus mengikis ajaran hindu dan budha di daerah tersebut. Setelah kerajaan Sama Indra takluk pada Kerajaan Aceh Darussalam, sultan Aceh selanjutnya, Sultan Mahmud II Alaiddin Johan Sjah mengangkat Raja Husein Sjah menjadi sultan muda di negeri Sama Indra di bawah Kerajaan Aceh Darussalam. Kerajaan Sama Indra kemudian berganti nama menjadi Kerajaan Pedir, yang lama kelamaan berubah menjadi Pidie seperti yang dikenal sekarang.

Prof. D. G. E Hall dari Inggris, dalam bukunya “A History of South East Asia”, mengambarkan Pidie sebagai sebuah negeri yang maju pada akhir abad ke-15. Hal itu berdasarkan catatan seorang pelawat eropa, Ludovico di Varthema, yang pernah singgah di Pidie pada akhir abad-15. Dalam catatan Varthema, sebagaimana dikutip Muhammad Said dalam buku “Wajah Aceh dalam Lintasan Sejarah”, pada abad tersebut Pidie yang masih disebut sebagai Negeri Pedir merupakan sebuah negeri maju yang setiap tahunnya disinggahi sekurang-kurangnya 18 sampai 20 kapal asing, untuk memuat lada yang selanjutnya diangkut ke Tiongkok, Cina. Dari pelabuhan Pedir juga diekspor kemenyan dan sutra produksi masyarakat Pidie dalam jumlah besar. Karena itu pula, banyak pendatang dari bangsa asing yang berdagang ke pelabuhan Pedir.

Hal ini mengakibatkan pertumbuhan ekonomi warga pelabuhan waktu itu meningkat. Bahkan varthema menggambarkan di sebuah jalan dekat pelabuhan Pedir, terdapat sekitar 500 orang penukar mata uang asing. Dalam catatannya, Varthema juga mengatakan takjub terhadap negeri Pedir yang saat itu sudah menggunakan uang emas, perak, dan tembaga sebagai alat jual beli, serta aturan hukum yang sudah berjalan dengan baik, yang disebutnya “Strict Administration of Justice”.

Konon, sibuk dan padatnya aktivitas masyarakat pada masa itu kemudian berpengaruh dalam penamaan Kota Sigli sebagai pusat pemerintahan Pidie yang asal katanya diambil dari bahasa Arab, yaitu “Syighlun” (sibuk) yang kemudian diadopsikan dalam bahasa lokal dengan sebutan “Sigli”.

Khenduri muloed


Selain kaya dengan nilai-nilai historis, Pidie juga mumpuni dengan pesona tradisi dan budayanya. Hal ini bisa ditandai dengan masih terjaganya kelestarian tradisi-budaya pada masyarakat Pidie, salah satunya adalah tradisi “khenduri muloed” yang diadakan selama tiga bulan berturut-turut dengan konsep membina silaturahmi dan harmoni sosial yang erat dalam masyarakat. Pada dasarnya Khenduri Muloed di Pidie hampir sama dengan daerah yang lain, namun di Pidie ada sedikit perbedaan. Prosesi Khenduri Muloed di Pidie diadakan dengan tiap-tiap tempat atau gampong yang berbeda waktu antara satu dengan yang lainnya, kemudian mengundang gampong tetangga untuk berhadir menikmati hidangan khenduri tersebut di Meunasah gampong. Proses ini selanjutnya berputar ketika gampong tetangga yang mengadakan khenduri muloed maka giliran gampong tetangga ini datang untuk hadir bersilaturahmi kembali.

Hal yang paling khas dalam acara maulid ini adalah nasinya yang dinamai bu kulah. Nasi ini berupa nasi putih yang dibungkus dengan daun pisang yang telah dilayu/diasapi, sehingga aromanya khas. Nasi maulid ini biasa disantap dengan gulai-gulai khas Aceh seperti gulai ayam kampung, ‘Sie Iték’, ditambah menu kecil lainnya seperti sambal goreng udang, Boeh Iték MasenKuah Asam Keu’uengKeumamah, sayur tumis dan sedikit buah-buahan segar. Bu kulah bersama lauk pauknya diantar warga ke meunasah dalam bentuk idang meulapeh di dalam dulang (dalong) lalu dihidang dan disantap bersama. Setelah mengadakan khenduri muloed, untuk memeriahkan acara tak jarang juga di malamnya masyarakat gampong akan mengadakan ceramah agama guna mengenang kembali kisah Nabi Muhammad Saw dimomen hari maulid, dan biasanya kegiatan ini dipelopori oleh persatuan pemuda gampong setempat dalam mempersiapkan acara. Bahkan, dimomen hari itu juga biasanya para perantau ikut pulang kampung untuk menikmati waktu bersama keluarga dan kerabatnya.

The Black Chinese (Cina hitam)


Kemudian, ada fakta lain tentang masyarakat Pidie yang tak kalah menarik. Pidie dikenal sebagai “Cina Hitam” (The Black Chinese) dari Aceh. Ini barangkali merujuk kepada prestasi mereka yang dianggap menyamai prestasi kesuksesan ekonomi dan perdagangan bangsa Cina yang sebenarnya. Putra kelahiran Pidie dikenal luas sebagai orang yang sukses di perantauan, tidak hanya sebagai pedagang atau pengusaha tetapi juga politisi yang mendapat kedudukan penting di birokrasi pemerintahan.

Mengapa Cina Hitam? Diidentikkan dengan bangsa Cina karena Cina dikenal senang bermigrasi ke seluruh dunia, yang akhirnya sukses dan mandiri secara ekonomi. Tibalah kemudian pada kesimpulan bahwa kegigihan orang Pidie itu sama dengan eksistensi dan kegigihan bangsa Cina. Tradisi migrasi di Pidie sudah dikenal sejak lama, baik level lokal Aceh, nasional bahkan mancanegara. Sehingga tidak heran orang Pidie tersebar di seluruh pelosok Aceh, di luar Aceh bahkan luar negeri sekalipun. 

Fenomena merantau telah mengakar di kalangan pemuda Pidie, selain melatih kemandirian juga jalan mencari kesuksesan dalam mengubah nasib menuju arah yang lebih baik. Dan sebagaimana sejarah leluhur, generasi Pidie juga dikenal handal di dalam ilmu dagang. Seakan-akan ini telah menjadi darah abadi yang mengalir disetiap garis generasi Pidie.

Pidie Kriet


Diantara beragam keunikan dan tradisinya yang khas, ada satu hal yang tak bisa dipisahkan dari Pidie dalam pandangan masyarakat luar. Iya, “Pidie Kriet” atau Pidie pelit yang begitu melekat. Kapan dan dari mana asal muasal istilah tersebut ? Pada dasarnya, ada pendapat yang menyatakan bahwa falsafah orang Pidie yang hidup mandiri diperantauan memiliki sikap rajin dalam hal menabung, bahkan cenderung hemat layaknya orang Cina karena ingin berinvestasi untuk kebutuhan masa yang akan datang. Kemudian lambat laun dari sikap inilah, berkembang dan memunculkan stigma atau sentimen negatif dari masyarakat luar dengan sebutan“Pidie Kriet” atau Pidie pelit. 

Akan tetapi ada fakta lain yang mengatakan bahwa label “Pidie Kriet” sejatinya hanyalah sebuah trik politik adu domba yang dulu digaungkan oleh seorang stafsus Belanda, Snouck Hucronje pada masa penjajahan dengan tujuan untuk menciptakan permusuhan dan perpecahan dikalangan sesama rakyat Aceh. Hal ini bisa di lihat tidak hanya di Pidie, tetapi juga pada masyarakat yang lain terdapat stigma yang demikian. Di Meulaboh misalkan, ada sentimen; “Bek jak u Meulaboeh di boeh do'a hana get” (jangan pergi ke Meulaboh digunakan doa tidak baik/santet).

Namun, pada kenyataannya benarkah masyarakat Pidie bersifat demikian? Jawabannya tentu saja tidak, secara umum kita dapat menemukan bahwasanya orang pelit itu terdapat di mana saja bahkan seluruh dunia. Malahan di Pidie semboyan “Adat geutanyoe peumulia jamee” sangat diaplikasikan oleh masyarakat dalam memuliakan kehadiran seorang tamu. Bahkan terkadang apabila mereka tidak memiliki uang, rela berhutang ke sana kemari demi melayani seorang tamu yang datang. Dengan melihat fakta yang demikian, pada hakikatnya slogan Pidie Kriet hanyalah sebuah prasangka sosial belaka yang dikumandangkan dari mulut ke mulut oleh orang-orang yang tak melihat secara nyata kejadian sebenarnya.

Tokoh-Tokoh Besar Dari Pidie


Beranjak dari perjalanan sejarah yang panjang, Pidie juga dikenal sebagai salah satu daerah yang vital dalam melahirkan sosok pahlawan, intelektual handal, ulama, dan politikus besar. Bahkan semenjak era kolonial Belanda, Pidie termasuk salah satu wilayah yang memiliki catatan sejarah apik dalam melakukan perlawanan terhadap Belanda. Bahkan ketika konflik antara GAM (Gerakan Aceh Merdeka) dengan Republik Indonesia, Pidie memiliki andil yang sangat besar dimana ketika GAM pertama kali dilahirkan di Gunung Halimon, pada tanggal 4 Desember 1976.

Kendati sektor utama penggerak perekonomian masyarakat Pidie adalah pertanian, namun ini bukan berarti pola pikir, semangat dan cara pandang mereka sangat tertutup dan terbelakang, sebagaimana lazimnya masyarakat agraris. Mereka bahkan berpikir lebih maju, visioner, dan bercita-cita tinggi. Implementasi sikap inilah yang kemudian melahirkan tokoh-tokoh besar dalam lintasan perjalanan sejarah Pidie. 

Dalam masa kolonialisme Belanda, Pidie melahirkan sosok pahlawan yang ditakuti oleh penjajah yaitu Tgk Chik di Tiro. Tgk Chik di Tiro Muhammad Saman (Tiro, Pidie, 1836 – Aneuk Galong, Aceh Besar, Januari 1891) adalah seorang pahlawan nasional dari Aceh. Teungku Muhammad Saman adalah putra dari Teungku Syekh Ubaidillah. Sedangkan ibunya bernama Siti Aisyah, putri Teungku Syekh Abdussalam Muda Tiro. Ia lahir pada tahun 1836, bertepatan dengan 1251 Hijriah di Dayah Jrueng kenegerian Cumbok Lamlo, Tiro, Pidie, Aceh. Beliau dibesarkan dalam lingkungan agama yang ketat.

Kemudian selain itu, sosok Tengku Daud Beureueh juga salah tokoh yang tersohor sepanjang sejarah Indonesia. Beliau termasuk salah satu pejuang kemerdekaan Indonesia dan gubernur Aceh. Selanjutnya ada nama-nama seperti; Tgk Hasan Krueng Kalee (ulama besar era kemerdekaan), Muhammad Hasan di Tiro (wali nanggroe Aceh), Prof. Ibrahim Hasan (mantan Menteri Negara Urusan Pangan Indonesia), Dr. Ir. Mustafa Abubakar (mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara Indonesia), Dr. Hasballah M Saad (mantan Menteri Negara Urusan Hak Asasi Manusia), dr. Husaini M. Hasan (mantan Sekretaris Neugara Aceh), dr. Zaini Abdullah (mantan Gubernur Aceh), Dr.(H.C.) Sanusi Juned, Ph.D (mantan Menteri Besar Kedah ke-7, Malaysia), Ismail Hassan Metareum (mantan Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat), Ibrahim Richard (mantan pengusaha Aceh di Indonesia), Prof. Warul Walidin (Rektor UIN Ar-Raniry), Farid Nyak Umar (Ketua DPRK Banda Aceh) dan sederet nama-nama lainnya. Setidaknya itulah sebagian nama-nama tokoh yang lahir dari rahim Pidie, berdarah negeri Pedir.

Beranjak dari serangkaian perjalanan negeri Pedir, memang selalu ada cerita yang unik dan menarik. Semua elemen terkumpul menjadi satu, baik sejarah, tradisi, budaya, pemikiran hingga keberhasilan anak negeri di perantauan. Sebagaimana kata Imam Asy-Syafi'i; “Merantaulah! Orang berilmu dan beradab tidak diam beristirahat di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan hidup di negeri asing (di negeri orang)”. Sebuah falsafah yang menjadi identitas khas dari negeri Pedir.(*)

Aceh, Warung Kopi dan Tradisi “Intelektual”



Aceh selalu punya cerita unik dan menarik, mulai dari masa penjajahan kolonial hingga abad modern kini. Aceh kaya dengan tradisi, budaya hingga tingkah laku masyarakat. Jiwa superiority complex seakan-akan telah menjadi dasar ‘ideologi’ masyarakat Aceh, menempatkan dirinya sebagai manusia paling mulia di dunia ini (bansa teulebeh ateuh rueng donya). 

Dari beragam keunikan tersebut, Aceh juga dikenal sebagai negeri seribu warung kopi. Ya, tidak terkecuali di wilayah kota ataupun pedalaman sekalipun, yang intinya warung kopi selalu ada untuk kita temui. Kopi menjadi minuman yang hampir semua kalangan menyukainya, dari mulai para pejabat hingga rakyat jelata.

Warung kopi serasa ruang literasi bagi masyarakat Aceh, di sanalah mereka bertukar pikiran, membahas permasalahan sosial dan politik atau bahkan membahas isu yang remeh temeh. Sebuah kewajaran, ketika kita mundur beberapa dekade ke belakang saat media informasi masih minim di kalangan masyarakat, dan hanya tersaji di warung kopi lewat sebuah layar televisi ataupun sepucuk surat kabar. Pada era tersebut konsep media masa belum terkenal, biasanya berita tersebar dari mulut ke mulut melalui proses dialogis. Dari asumsi inilah membuat warung kopi tak saja dianggap sebagai wadah tempat melepas lelah, tetapi juga ruang informasi dan intelektual.

Kebiasaan ini kemudian terus menyebar dan menjelma menjadi ‘local widom’ tersendiri bagi masyarakat Aceh, hingga akhirnya Aceh pantas mendapat julukan sebagai “nanggroe siribé waroeng kupi”.

Dalam literatur sejarah dunia, warung kopi juga sering diidentikkan sebagai tradisi intelektual. Sejak masuknya kopi ke daratan Eropa pada abad ke-17, lambat laun kopi menjadi minuman yang sangat populer dan menjadi minuman para tokoh-tokoh Intelektual eropa, terutama di Prancis.

Cafe d’Alexandre menjadi tempat nongkrong para Intelektual Prancis, seperti Charles Monstesquieu (Tokoh yang merumuskan Trias Politika: Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif) dan Voltaire salah satu tokoh yang melahirkan enlightenment  (Pencerahan) di Prancis. Di warung kopi itu ide-ide muncul. Melalui diskusi-diskusi, bertukar ide, adu gagasan dengan para teman-temannya, maka lahirlah era pencerahan di Prancis. Selain Cafe d’Alexandre, warung kopi yang paling terkenal saat itu Cafe la Regence tempat para intelektual membicarakan ide dan gagasan mereka.

Walaupun zaman telah berubah, budaya minum kopi telah menjadi gaya hidup tersendiri di dalam trend masyarakat Aceh. Tradisi ini telah turun-temurun kepada generasi dengan nuansa yang berbeda. Di era digitalisasi, warung kopi telah ditranformasikan dengan keadaan zaman. Kini, tata ruang yang nyaman dan fasilitas internet wifi gratis umumnya menarik lebih banyak kalangan muda untuk betah berlama-lama di warung kopi.

Walaupun demikian, bagi mereka yang benar-benar penikmat kopi, warung yang sederhana namun menyajikan racikan kopi terbaik tetap menjadi tujuan nomor satu walaupun tanpa ada fasilitas wifi sekalipun.

“Haruskah aku bunuh diri, atau minum secangkir kopi?”, ujar Albert Camus, peraih nobel sastra dari Prancis.(*)

Ulama Dayah, Benteng Masyarakat Aceh dari Penjajah Belanda

* Oleh:  Teuku Zulkhairi, Do sen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry, Banda Aceh. Melalui tulisan ringan ini saya hanya ingin sedik...