*Oleh : Bung Alkaf
Pada 9 Juni 1873, Kolonel E.C. Van Daelen tersenyum puas, sebab sebagai Panglima Tertinggi Belanda dalam Perang melawan Aceh, dia merasa telah memenangkan peperangan karena berhasil menguasai Dalam (Istana Sultan Aceh). Perang itu dicatat dalam sejarah kolonialisme bangsa-bangsa Eropa sebagai peristiwa yang paling mengguncang karena kegagalan agresi Belanda yang pertama, dimana Belanda harus mundur ke Batavia dengan membopong Jenderalnya yang ditembak mati di bawah pohon besar di halaman mesjid Baiturahman. Jendral Kohler namanya, satu dari empat Jendral Belanda yang mati sepanjang perang melawan orang Acheen.
Namun Van Daelen kemudian benar-benar salah, karena setelah menguasai Dalam dan beberapa wilayah di Aceh Besar, dia dan negaranya baru akan memasuki perang yang sesungguhnya. Perang terlama yang pernah dirasakan oleh Belanda itu disebut oleh Paul Van’t Veer (1985) berlangsung dalam empat bagian dari 1873-1942.
Dimana letak kekuatan orang Aceh sehingga sanggup berperang dengan begitu lama? Bagi orang Aceh, maka akan menjawab kekuatan itu datang dari agama, hal tersebut disimbolkan dalam sebuah Hikyat Perang Sabil. Namun bagi seorang Belanda, H.C. Zentraaff (1983), orang Aceh itu seperti dilahirkan untuk berperang! Tipikal itu baginya ada dalam diri Tgk. Chik di Tiro yang digambarkan sebagai orang yang bersemangat dalam mengkampanyekan perang melawan apa yang dianggap oleh keyakinannya sebagai perang suci. Heroisme itulah yang kemudian menarik garis demarkasi antara Aceh dan Belanda yang tetap Kaphe sampai kapanpun.
Beberapa puluh tahun setelah pendudukan Dalam, orang Aceh tetap melihat Belanda sebagai Kaphe. Cara pandang itulah yang mendorong Teuku Ubiet mengasah parangnya untuk menghabisi Kontroleur Belanda pagi-pagi buta di Seulimuem sebagai salam terakhir untuk negara kolonial berkulit putih itu sekaligus menyambut kedatangan saudara Asia, Jepang.
Belanda itu Kaphe, karena itu orang Aceh tidak pernah bisa menjadi Belanda, sehingga kita tidak pernah mendengar ada perempuan Aceh yang menjadi Nyai-Nyai (perempuan pribumi yang menjadi gundik perwira Belanda). Bahkan tidak hanya itu, kristenisasi di Aceh selama masa kolonial juga tidak pernah berhasil. Menjadi kristen sama saja dengan tidak lagi menjadi Aceh, makanya ketika ada isu kritenisasi paska Tsunami, orang Aceh tidak pernah gusar, karena bedil Belanda dulu pun tidak bisa mengkristen-kan orang Aceh, apalagi hanya dengan bantuan. Sebab bagi Aceh, pemaknaan masyarakat dari Linton tidaklah berlaku. Linton mengatakan bahwa masyarakat sebagai bagian dari setiap kelompok sosial yang telah lama hidup bersama akan bisa mengasosiasikan dirinya sebagai suatu kesatuan sosial dengan batas-batas tertentu yang tidak berlaku. Namun bagi orang Aceh, selama apapun masa pendudukan, tetap saja tidak akan pernah membuat mereka menjadi Belanda.
Perang panjang melawan Belanda memang membuat Aceh terputus dari masa lalunya. Perang kolonial membuat Aceh tidak lagi bisa mElihat kembali ke sejarahnya yang besar, seperti dikatakan oleh sejarawan Perancis Denis Lombard, Aceh yang tertata dengan rapi dan memilki kekuatan militer yang hebat. Sehingga kemudian Aceh harus mendialogkan identitasnya dengan nama yang baru: Indonesia. Dengan Indonesia, Aceh melakukan asosiatif dan disosiatif. Aceh menerima gagasan keindonesiaan karena melihat ada masa depan di dalam negara baru itu. Harapan bagi Aceh yang sangat fanatik terhadap agamanya adalah akan tegaknya Islam, karena untuk itulah orang Aceh berperang.
Namun, Aceh juga melakukan proses sosial yang disosiatif, seperti pemberontakan yang juga dilakukan oleh Republiken sejati. Disini walau masih memiliki harapan pada Indonesia, namun Aceh terus menjauh dari Indonesia, karena sebelum turun gunung, generasi Republiken itu sudah meletakkan gagasan Aceh Baru tanpa Indonesia yang bernama RIA (Republik Islam Aceh).
Gagasan nasionalis tanpa Indonesia itu dipertegas lagi oleh generasi Republiken yang lebih muda, yang pernah belajar dii sekolah ideologi Normal Islam Institute, yang kemudian hijrah ke Amerika,Hasan Tiro, melalu Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
Pemberontakan GAM ini juga dibangun dengan landasan ideologi nasionalis keacehan. Namun tidak seperti generasi sebelumnya, gagasan Hasan Tiro tidaklah membawa Islam dalam bingkai apapun, termasuk dalam bingkai Daud Beureueh. Gagasan Hasan Tiro dibangunnya dari sejarah Aceh yang dibacanya di perpustakaan New York dengan cara pandang Renaisanse. Jadi gagasan itu bukan lah revivalis, namun benar-benar baru.
Perang itu memang membuat Aceh kini terputus dengan masa lalunya. Namun perang itu jugalah yang membawa Aceh masuk ke alam modern dan kebaharuan. Hal ini bisa dilihat ketika orang Aceh memperbaharui cara melihat orang asing. Dulu dianggap kaphe karena membawa huru hara, namun kini menjadi saudara karena membawa kedamaian.
Kebaharuan tersebut haruslah dihadapi dengan optimisme, sebab Aceh kini sudah berada dalam episentrum modernitas. Tantangan modernitas yang dihadapi ke depan haruslah membuat Aceh tidak boleh meninggalkan sumber utamanya, yaitu Islam, yang telah membuat generasi sebelumnya mampu melawan tanpa henti. Dialog antara Islam dan modernitas akan membawa Aceh tidak saja tersambung kembali masa lalunya, namun juga membangun masa depannya yang baru.(*)
No comments:
Post a Comment